Mengenai Saya

Foto saya
Bandung-Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia
menulislah dengan hati, karena denganya kau bisa sampaikannya pada hati. Hanya ingin berbagi manfaat, semoga dapat benar-benar bermanfaat :)

Pengikut

Senin, 13 Mei 2013

Fiktif...

Matahari mulai tinggalkan jejaknya perlahan-lahan, bukan karna ia bosan temani hari, namun ia sadari karna sekarang giliran bulan yang menjemput hari. Jalan raya yang sedang disusuri oleh kami semakin dipenuhi oleh mobil-mobil besar bermuatan barang-barang berat yang biasa di gunakan untuk mengantarkan barang ke luar kota yang mungkin jaraknya ratusan kilo meter dari ibu kota.
jalanan kota antara Purwakarta-Yogyakarta semakin ramai ditambah oleh mobil yang sedang mereka tumpangi, ya tepat pukul 23.00 WIB malam ini mereka sedang menyusuri jalanan yang biasa digunakan mobil-mobil besar bermuatan barang untuk diantar ke luar kota, dari Purwakarta menuju kota pendidikan Yogyakarta. bukan tanpa tujuan, bukan atas dasar ketidaksengajaan, namun semua sudah Allah atur sedemikian rupa, hingga Allah takdirkan hari ini tepat tanggal 10 Mei 2012 setelah 19 tahun lamanya bagiku, 22 tahun bagi kakak lelakiku kak Rio, dan 25 tahun lamanya bagi kakak perempuanku kak Seni tak pernah bertemu apalagi mengenal sosok wanita tua yang sudah berambut putih,  kulit putih yang semakin mengerut, postur badan yang tak tegak lagi, suara yang semakin tak jelas arah pembicaraannya. Nenek.
ya, semenjak ayah dan Ibu berpisah entah berapa puluh tahun silam tak pernah tahu pastinya, kami tak pernah ayah kenalkan dan tak pernah di pertemukan dengan orang tuanya (read : kakek, nenek). 19 tahun bagiku, waktu yang cukup lama, lama sekali tak pernah mengenal sosok seorang wanita tua itu, bahkan bodohnya tak pernah terlintas untuk bertemu dengannya. Rabbi.. ampuni aku. menjerit dalam hati saat mobil terus melintas ke arah kota pendidikan itu.

21 jam berlalu, tepat pukul 19.00 WIB melebihi batas normal perjalanan akhirnya sampailah kita di pusat kota Yogyakarta. namun belum menemukan tempat tujuan, kami masih berkeliling mencari alamat yang diberikan oleh ayah. Hingga pada akhirnya di depan rumah sakit "Permata Cinta" kami sudah ditunggu oleh seorang pria berkulit kecoklatan, tinggi sekitar 170 cm tersenyum lebar dan sigap memberhentikan mobil yang kita kendarai sambil bertanya "dari Purwakarta ya?" kami pun spontan menjawab "iya." "ya ikuti saya ya."jawab lelaki itu sambil mengendarai motornya.
Tidak jauh dar tepian rumah sakit itu, hanya lima menit saja kami tiba di depan rumah berpagar putih dan bercat hijau  disambut oleh ayah yang memang tinggal disitu.
Kami bertiga aku dan kakak-kakakku saling bertatap-tatap, diam sejenak, tersenyum, dan ada air yang menggenang kami tahan dari dua bola mata ini.Walaupun kami saling berdiam dan hanya berbicara lewat tatapan, tapi aku tahu dari kedua bola mata kita, ada bahasa hati yang tersampaikan bahwa kita merasakan hal yang sama. sedih, sakit, perih, luka, dan bahagia. sehingga tak sanggup lagi berkata.
Rabbiiii, hari ini setelah 25 tahun lamanya kami baru saja akan mengenal bagian keluarga kami yang sebelumnya tak pernah kami kenal. Nenek, Uwa, Tante, Om, Mas, dan yang lainnya.

Kamipun lekas turun dari mobil dan langsung menghampiri ayah, kucium tangannya ditambah dengan pelukan hangat beriring kerinduan.
Wanita paru baya berkerudung ping berdiri di depan pintu dan sudah meneteskan air mata sebelum aku menghampirinya, langsung saja aku datangi kucium tangannya sepersekian detik ia pun memelukku erat dan kencang sekali,  Ia ciumi wajahku, lalu ia memelukku kembali, masih dengan perasaan yang sama, kencang dan erat sekali seolah tak pernah ingin dilepas kembali. Aku kira itu adalah nenek, ternyata bukan. karna di dalam masih ada sosok wanita berrambut putih, yang postur badannya sudah tak tegak lagi sudah berdiri sedari tadi, lekas saja aku menghampirinya dan setengah menjatuhkan badan memeluk tubuhnya yang lemas. Ia bertanya "ini siapa?" tangisanku pun meledak sambil menjawab "ini reni nek, anak bungsu ayah." tangisan nenekpun semakin meledak, ia menciumiku, memeluk lebih erat dari wanita sebelumnya. erat sekali. pelukkan bergumpal kerinduan yang sudah disimpan selama 19 tahun tak tersampaikan. begitu erat, dan tak pernah ku ingin lepaskan pelukannya. *resapi dan rasakan* sama halnya dengan kakak-kakakku yang bergantian memeluk dan menciumi nenek.
Kami pun dikenalkan dengan anggota keluarga ayah, wanita berkerudung ping itu adalah kakak dari ayah (read : uwa) sosok pria gagah yang menjemput kami di rumah sakit tadi itu adalah sepupu kami, anak dari uwa, dan wanita satu lagi adalah istri dari kakak ayah. sementara kakek sudah meninggal sejak 6 tahun lalu, padahal belum sempat kami temui.

Kami sudah berkumpul di ruang tengah, kami bertiga masih terdiam , aku pun melamun, sesaat seolah kembali memutar memori masa lalu,dan menatap satu demi satu wajah-wajah yang baru kami kenal. sesaat justru tangisan kami kembali meledak, terlebih kak Rio, Ia menjatuhkan dirinya pada ibu mungkin tak kuasa membayangkan apa yang sudah terjadi perpisahan ayah dan ibu yang menjadikan kami seperti ini. Dirumah itu, aku merasakan kehangatan yang luar biasa, kerinduan yang selama ini terpendam, akhirnya baru saat itu meledak. spontan mungkin karna saking sakitnya dan hilang kontrol, aku memarahi keadaan dan menggerutu dalam hati "Kenapa Ibu dan Ayah mesti pisah, kenapa aku dilahirkan dari keluarga yang broken, kenapa mesti aku, kenapa kita bertiga yang harus menjadi korban, kenapa, kenapa kenapa kenapa aku kenapa kita? sakit, perih, sakit." Astaghfirullah, kembali tersadar dan beristighfar. Rabbiii ampuni kami. Kalau saja kalian merasakan bagaimana rasa sakit ini terus-terusan menghampiri saat itu, bayangkan saja rasanya mungkin seperti kalian terkenal luka di tangan oleh pisau, lalu luka tersebut yang masih bercucuran darah kembali digores-gores berulang-ulang dengan sengaja (seperti orang memotong kayu dengan gergaji). Atau luka yang masih basah itu terus-terusan dibasahi oleh air yang mengalir. Perih. ya, Perih sekali.
tangisan kami semakin meledak kembali saat nenek berkata, "Padahal nenek sudah nunggu semenjak lama, waktu kakek meninggal, waktu bapak kalian di operasi, nenek nunggu-nunggu saja, tapi kalian tak juga datang." maafkan kami nek, maafkan. jeritku dalam hati.
Semenjak menginjakkan kaki di rumah itu sejak pukul 19.00 WIB tadi, rasanya tak ingin membiarkan kaki ini membawa kembali tubuh dan jiwa ini pulang ke purwakarta, sambutan hangat penuh kerinduan pun terasa begitu sampai ke hati. "gak mau. gak mau pulang" kembali menjerit dalam hati, yang kembali terungkapkan oleh tangisan yang semakin menjadi.

Nenekpun bercerita, menceritakan anggota keluarganya, mulai dari uwak yang tinggal di Aceh, Palembang, Kudus, bahkan ada yang di Mesir, biasanya rumah itu ramai dengan jumlah anggota keluarga lengkap pada saat liburan 'idul fithri. karena rata-rata semua keluarga berlebaran dengan nenek. Aku terus menatapi wajahnya dan dengan seksama ku dengarkan kata demi katanya, karna suaraya yang sudah mulai tak jelas membuatku terus berusaha menafsirkan apa yang diucapkannya. Ya, kembali jatuh tetesan itu. tak kuasa ku tahan, nenek......
Aku tak pernah mengira semua ini akan terjadi, aku akan bertemu nenek, mendengarkan ceritanya dengan seksama, memeluknya dengan penuh cinta, menciumi wajahnya dan tak ingin melepaskan pelukannya. hari ini, setelah 19 tahun lamanya. Nenek..... lagi-lagi ku berteriak dalam hati.
Sesak, rasanya ingin memberhentikan jarum jam seketika sehingga waktu tak sampai pada saat kita harus pergi. Namun ah, rasanya tak mungkin. Empat jam stengah pun berlalu bak empat menit dari pukul 19.00 WIB, tepat pukul 23.30 kami sudah harus bergegas kembali pulang. engga rasanya. Nenek dan saudara-saudara pun terus menerus berusaha mencegah kepulangan kami, namun apa boleh buat nyatanya kami harus tetap pulang. sebelum kami mulai pamitan pulang, nenek berkata "Nenek seneng ketemu kalian, tapi nenek bakalan sedih lagi, karna nenek bakal ditinggal lagi sama kalian." saat itu kami mulai bisa menahan tangisan. walaupun justru terasa semakin sesak. Nenek...
Akhirnya setelah empat jam kami berbincang dan sedikit melepas rindu, dengan berat hati kamipun kembali bersalaman untuk berpamitan. Pelukan nenek yang lebih erat dari yang pertama, rasanya benar-benar tak ingin ku lepaskan, pelukan terakhir malam itu entah pelukan untuk berapa bulan ke depan, atau mungkin berapa tahun ke depan, karna aku tak pernah tahu kapan kita akan bertemu lagi. kuciumi wajahnya, tangannya dan kembali kupeluk dengan erat sekali, kencang dan sekali lagi benar-benar tak ingin ku lepaskan. Sama halnya dengan kak Rio dan kak Seni, tangisan kamipun meledak. kamipun kembali menyalami dan memeluk anggota keluarga satu per satu.


Tak ingin rasanya melangkahkan kaki ke dalam mobil, kembali ku tengok ke belakang saat berjalan, kulihat merekapun tak kuasa untuk menahan butiran-butiran air yang keluar dari bola matanya. meledak, menuangkan ekspresi kerinduan dan sakit yang sama hanya lewat butiran-butiran kecil air yang mengalir itu. jelas saja itu membuatku semakin sesak.
Rabbi.... aku tak kuasa.

***
Sejak malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri akan sering menemui nenek di Yogya, akan sering menengoknya, dan melepas rindu disana. Aku tahu, aku memang tak seberuntung orang lain yang terlahir dari keluarga yag utuh, ayah, ibu, kakek, nenek, dan saudara-saudara yang lengkap, namun aku yakin apa yang sudah terjadi itu atas kuasa-Nya, Ia sudah tunjukkan mutiara-mutiara hikmah yang mengalir di kehidupanku, walaupun aku tidak banyak dididik oleh Ayah, Nenek, Kakek dan keluarganya tapi aku terdidik oleh kehidupan yang keras ini. lebih nyata, dan aku yakin suatu hari nanti Allah akan menjawab semua yang terjadi, pasti masih banyak rencanyanya yang jaaauh lebih indah dari ini. aku yakin itu.

***

Wuuuss.. Mobil yang kami kendaraipun perlahan-lahan meninggalkan kota Yogyakarta, masih belum ada yang bersuara dalam mobil kijan silver itu, semua masih sibuk dengan gumaman perasaannya yang mungkin lebih ringan jika diobrolkan dalam hati saja, semua hati dan fikiran pun berkelana, pergi, terbang, riang entah kemana memikirkan, merasakan dan memaknai hari itu, bukan sebuah kebetulan, ataupun ketidaksengajaan tapi hari itu 10 Mei 2012 Allah merancang skenarionya dengan begitu indah, sempurna, mengizinkan kami untuk menciumi tangan nenek dengan penuh ta'dzim, dan memeluknya dengan gumpalan kerinduan. Hingga akhirnya kamipun terlelap, terlelap dalam kerinduan yang menggantung di pojok rumah bercat hijau itu.