Mengenai Saya

Foto saya
Bandung-Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia
menulislah dengan hati, karena denganya kau bisa sampaikannya pada hati. Hanya ingin berbagi manfaat, semoga dapat benar-benar bermanfaat :)

Pengikut

Selasa, 04 Februari 2014

Enam Ratus Dua Puluh di kali Dua

Raja siang belum sampai pada waktu tuk tampakkan keperkasaannya mengganti cahaya bulan, pun dengan bintang yang tak terhitung bilangannya masih setia mengindahkan malam. Ya, malam ini terasa sangat panjang saat dilalui bersama mereka tanpa banyak waktu merebahkan badan tuk sejenak bertemu dengan indahnya mimpi seperti biasanya (baca : tidur). Malam itu (00.30 WIB) Allah takdirkan kami tuk mendaki 620 anak tangga katanya, untuk sekedar menikmati permulaan munculnya raja siang dari ufuk timur sana yang ditunggu setiap jiwa anak manusia. Dari puncak kawah Galunggung, Tasikmalaya.
Bukan hal yang sulit bagi sebagian orang untuk mendaki 620 anak tangga yang beragam ukurannya, mulai dari jarak yang cukup tinggi sampai yang tak terlalu tinggi antara anak tangga satu dengan yang lainnya itu perlahan kami pijak dengan tumpuan kedua telapak kaki juga tumpuan do’a dan harap pada Pemilik kedua telapak kaki ini agar dibersamaiNya selama perjalanan, tiba di atas, hingga kami kembali ke tempat asal (baca : kontrakan), dengan diawali do’a dan keyakinan kami pun melangkah dengan penuh rasa syukur. Memang bukan hal yang sulit bagi sebagian orang, tapi ini bukan tentang kesulitan, hanya tentang keyakinan.

Tak lebih dari satu setengah jam kami menghabiskan 620 anak tangga itu, yang disambut oleh udara dingin yang perlahan berhembus hingga menembus tulang dalam tubuh ini. Bbbrrrr.... tak berani melepas jaket satu-satunya yang sedikit menangkas rasa dinginnya tanah Galunggung dini hari itu. Istirahat sejenak, sambil merebahkan kaki yang sedikit kelelahan setelah menyapa anak-anak tangga yang berujung di angka 620 itu katanya, sampai di atas pun masih di bersamai oleh ungkapan “katanya” karena tak sempat ku hitung sendiri jumlah anak tangga itu saat naik tadi.

Hhhmm.. perjalanan terhenti saat kami di ambangi kebingungan untuk melanjutkan perjalanan ke arah mana? Tak ada yang tau perjalanan diantara kami yang tersisa, salah seorang yang tau sudah lebih dulu menjejaki jalan yang ntah ke arah mana ia berjalan tak sempat kami hantarkan pandangan saat kepergiannya.

10, 15, hingga kurang lebih 30 menit kami meluruskan otot-otot persendian yang kami jadikan tumpuan selama perjalanan ini (baca : kaki), hingga akhirnya kami putuskan tuk melanjutkan perjalanan ke arah yang kami kehendaki yang awalnya berniat menuju puncak gunung, tetapi sesaat setelah tumpukan pasir dan tanah yang kami jejaki itu menanjak, turunan semakin panjang yang kami pun tak yakin bahwa itu adalah jalan menuju puncak karena tanah yang kami jejaki semakin menurun dan datar, oke.. benar saja itu perjalanan menuju kawah. Bukan puncak

Apa boleh buat, tanah sudah tertapaki, kaki sudah melangkah sejauh waktu akhirnya menghentikan. Tak mengeluhkan apapun, kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan saat menemukan tempat yang mirip tempat pertama yang kami jumpai setelah naik tangga dan kami temukan tangga yang berbeda dengan jarak sekitar 1 km dari tangga pertama. Dan keputusan akhirnya kami akan menyambut kemunculan si Raja siang itu di tempat ini, dari dataran yang cukup tinggi dan tak terlalu rendah 17 pasang bola mata ini akan kembali menjadi saksi kebesaranNya atas segala ciptaannya yang terjamah pandangan, tanpa melupakan kebesaranNya yang lain yang tak mampu di nikmati oleh pasangan-pasangan bola mata ini.

Menit berlalu lewati langit yang masih berkulit zanggi, tertabur bintang dari yang Maha Suci sempurnakan indahnya hamparan langit malam hari, aku dan kedua kawanku memutuskan untuk mencari sumber ke bawah melalui tangga kedua yang kami temui hari itu, mendapat informasi dari kawan yang sudah berpisah dari awal katanya sumber tak jauh dari sini.

Hembusan udara dingin masih setia menyelimuti dini hari hingga kami bertiga memutuskan untuk melewati anak tangga yang entah ada berapa ratus lagi hingga kami sampai di sumber air yang di maksud. Setelah kurang lebih setengah jam kami tapaki tangga menurun, pohon-pohon besar di pinggiran jalan yang kami lalui bernyanyi sempurnakan alunan malam yang rupawan, aspal yang sudah rusak mungkin karena sering tergilas ban-ban besar dari pendatang (baca : truk) bebatuan dan jalanan licin sekitar 1 km kami lalui tak juga kami temukan sumber air tersebut.

Allah... setelah menempuh perjalanan mendaki puncak kawah galunggung yang baru saja kami tiba beberapa menit saja di puncaknya, tanpa sadar kami mencari sumber air yang kami pun baru mengetahui bahwa sumber air yang di maksud berada di tempat asal kami memulai mendaki, itu artinya setelah tiba di atas kami berputar menemukan tangga kedua dan kami kembali turun dan memutari jalan hingga bertemu kembali tangga pertama.. Rabbiii.. helaan nafas yang cukup panjang melepaskan semua kekesalan, kelelahan, dan penyesalan dalam diri ini, hingga memutuskan tuk kembali ke puncak kawah.

Matahari telah bersiap di ufuk timur sana, bintang-bintang satu per satu bergantian meninggalkan langit yang mulai melepas kezanggiannya, hari kan mulai terang tampakkan sinarnya, namun kami masih melangkahkan kaki bertumpu pada aspal-aspal rusak dan perlahan menaiki tangga kembali ke puncak kawah galunggung di atas sana. Satu jam berlalu, dengan badan yang sudah terguyur keringat, hembusan nafas terengah-engah, badan yang tergopoh-gopoh dan kedua kaki yang rasanya sudah tak mampu menapak, gemetar menahan tumpuan badan yang semakin kuat (saking lelahnya) akhirnya tiba kembali di puncak kawah Galunggung. Finally... Alhamdulillah.. Perjalanan luar biasa berkali-kali melewati anak tangga, memutari tanah galunggung malam, bersama tiga anak manusia yang menjadi perantara cerita luar biasa malam itu.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan tanah-tanah bumi mampu terpijak oleh ribuan kaki-kaki yang lemah, Maha Suci Allah yang telah menghantarkan hikmah lewat perjalanan malam yang begitu menawan. Hati yang penuh keluhan, cacian, penyesalan pada keadaan yang seringkali terucap oleh bibir yang berbual dosa ini malam itu kembali terketuk akan indahnya perjalanan yang menghantarkan ribuan cahaya penuh hikmah melalui perjalanan yang begitu menawan, tangga-tangga itu, aspal-aspal rusak itu, pohon-pohon besar itu, serta langit berkulit zanggi menjadi perantaraNya menyampaikan hujan hikmahnya yang menyadarkanku akan tak berartinya ribuan keluhan yang keluar dari bibir penuh dosa ini. Aspal-aspal itu pernah indah seketika saat ia baru dirapikan, kemudian rusak karena putaran ban-ban besar yang berputar di atasnya namun tak ada keluhan yang terdengar karena suatu hari nanti aspal-aspal rusak itu kan kembali indah ditata manusia sebagai perantara dari-Nya. Pohon-pohon besar itu pernah tumbang sesekali tanpa keluhan yang terdengar, karena suatu hari nanti pohon itu akan kembali berdiri kokoh atas kuasaNya. Tangga-tangga itu pernah basah dan licin karena rintik-Nya yang turun dari langit mendung, tapi tak pernah ada keluhan terdengar karena hari tak kan selamanya hujan. Ada mentari yang pasti menjalankan tugas dariNya mengembalikan tangga-tangga itu tak lagi licin, mengering. Ya.. memang semua kan tiba pada waktunya, tepat waktunya, bukan segera waktunya. :)

Begitupun dengan kisah ini, semuanya mendidikku belajar melepaskan keluhan-keluhan itu yang sering tertumpuk dalam benak, mengajarkanku sejauh apapun perjalanan yang di tempuh, selelah apapun, semua kan kembali pada tempatnya dengan kesabaran dan kebijaksanaan, pada waktunya. atas izinNya, atas kuasaNya. tak ada yang salah dalam perjalanan, perjalanan yang akan membuat kita berbijak, menentukan langkah juga sikap, ah.. memang manusia tempatnya mengeluh. Tapi memang ujian yang ‘serupa’ takkan pernah habis dan berganti sebelum kita lulus menghadapinya, sampai kedewasaan kokoh tertanam dalam sikap saat menempuh perjalanannya. Berbijaksanalah...
Matahari penghujung bulan Januari mulai tersipu menampakkan cahayanya, tersipu malu menyadari kesaksian 17 pasang bola mata atas perantara kebesaranNya lewat cahaya yang terpancar pada jutaan anak manusia di jagat raya, dari puncak Kawah Galunggung, Tasikmalaya...

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang, demi penciptaan laki-laki dan perempuan, sungguh usahamu memang beraneka macam, Maka barang siapa memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan jalan menuju kemudahan (Kebahagiaan)” (Qs. Al-Lail 1-7)

 Tanah Kujang, di Dua Februari-Nya