Mengenai Saya

Foto saya
Bandung-Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia
menulislah dengan hati, karena denganya kau bisa sampaikannya pada hati. Hanya ingin berbagi manfaat, semoga dapat benar-benar bermanfaat :)

Pengikut

Rabu, 08 Oktober 2014

Pengaruh Model Penulisan Naskah Kuno Terhadap Model Pembelajaran di Pesantren Tradisional


 Sebagaimana telah kita ketahui sejarah mengatakan bahwa Islam merupakan sumber ilmu pengetahuan terkaya yang ada di muka bumi ini, kita tahu bahwa Ilmuwan-ilmuwan Islam sudah lahir sejak Masa Kenabian yang kemudian memberikan kontribusi agung terhadap dunia pendidikan dan Ilmu Pengetahuan yang hingga saat ini sudah banyak di adopsi oleh ilmuwan – ilmuwan dunia.

Bentuk nyatanya adalah Sumber Ilmu Pengetahuan yang kita pegang saat ini, baik dalam bentuk tulisan ilmiah yang di bukukan, teori, sastra, dll merupakan salah satu bentuk pengadopsian Ilmu Pengetahuan yang bersumber dari Islam itu sendiri yang sebelumnya telah melalui proses panjang dalam pengedisian (penyuntingan) dari Teks aslinya yang kita kenal dengan istilah Naskah Kuno atau Manuskrip. *dalam tulisan ini saya tidak akan terlalu banyak membahas tentang naskah maupun filologi.

Naskah Kuno atau Manuskrip merupakan dokumen dalam bentuk apapun berusia lima puluh tahun lebih  yang di tulis dengan tangan yang dalam mempelajarinya/menelitinya di sebut dengan kajian Ilmu Filologi. Melalui Naskah-naskah inilah Ilmu Pengetahuan Islam berkembang hingga menjadi kumpulan tulisan-tulisan yang di cetak, di bukukan, dan di sebarluaskan hingga saat ini, karena buku-buku yang kita pegang saat ini pada mulanya berbentuk naskah dengan Teks yang ditulis tangan.

Pada mulanya proses penyebar luasan Ilmu Pengetahuan Islam adalah dengan cara dari mulut ke mulut sama halnya saat Rasul menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Sahabat, namun dalam rangka terjaganya ingatan dan ilmu tersebut pun agar tersampaikan pada generasi setelahnya muncullah inisiatif untuk menuliskan apa yang di sampaikan ‘ulama (Ilmuwan-Ilmuwan) islam pada masa itu, misalnya Ibnu Sina dengan Ilmu Kedokterannya, Albattani dengan Ilmu Astronominya, serta ‘ulama yang ahli di bidang masing-masing.

Dalam sejarahnya, dikatakan bahwa dahulu saat ‘ulama islam menyampaikan pelajaran (sebuah ilmu)  terhadap murid-muridnya adalah dengan metode Mendengar dan Mencatat. Lebih detailnya, sang ‘ulama menjelaskan isi tulisan kemudian murid-muridnya mencatat penjelasan tersebut di sisi atau di sekitar teks yang ada dalam naskah tersebut yang dalam Ilmu Filologi tulisan tentang penjelasan isi tersebut dikenal dengan sebutan Kodek (cmiiw), sehingga naskah tersebut menjadi penuh dengan tulisan sang murid atas penjelasan ‘ulama.

Hal ini juga yang mempengaruhi macam-macam penjelasan ‘ulama masa kini terhadap teks asli karena daya tangkap yang berbeda sehingga berbeda-beda pula bentuk penulisan dari sang penyalin, namun tetap dengan maksud yang sama. Perlu saya sampaikan lebih detail tentang bentuk Naskah dan Teks bahwa yang di maksud dengan Naskah dalam ilmu filologi adalah kertas (Papyrus) yang mengandung Teks/tulisan, sedangkan Teks adalah Tulisan yang ada dalam Naksah.

Kembali lagi ke metode, jika kita menilik metode penyampaian ‘ulama islam dahulu dan penulisan murid-muridnya ternyata memberikan pengaruh terhadap pesantren tradisional saat ini. Pesantren sebagai wadah yang lebih fokus pada transformasi nilai – nilai keislaman ini, dalam metode pembelajarannya banyak menganut budaya Metode penyalinan teks pada zaman Ilmuwan Islam (berkenaan dengan edisi teks) yakni Mendengar dan Mencatat.

Saat ini, saya sebagai orang yang sedang menimba ilmu di salah satu pesantren Tradisional, sedikitnya faham akan model pembelajaran yang di terapkan di pesantren-pesantren tradisional, masyarakat luas mengartikan bahwa pesantren tradisional adalah pesantren yang mempelajari kitab kuning sebagai sumber pengetahuan, banyak juga yang mengartikan bahwa pesantren tradisional disebut juga sebagai pesantren salafi sedangkan dalam makna aslinya salafi merupakan pesantren/wadah yang focus mempelajari Quran dan Hadits saja.
Dalam metode pembelajarannya ternyata banyak menganut budaya penulisan pada zaman shahabiyah, jika di pesantren tradisional terdapat istilah ‘ngaloghat’ atau ‘melogat’ yang secara bahasa artinya adalah ‘membahasakan’ namun pada prosesnya ‘ngaloghat’ atau ‘melogat’ adalah proses menerjemahkan secara leksikal yang di tulis oleh santri berdasarkan keterangan dari sang Guru. Prosesnya biasanya murid menerjemahkan dengan model menulis makna dengan tulisan miring di bawah teks asli (matan/isi) kitab tersebut, namun jika dalam Naskah Kuno tulisan miring tersebutlah yang di maksud dengan Kodek sedangkan dalam kitab Kuning yang memiliki makna sama dengan istilah Kodek terkenal dengan sebutan Syarah Kitab (Penjelasan Kitab). Model penulisan miring yang dilakukan oleh santri tersebutlah yang mengadopsi model penulisan Kodek dalam Naskah Kuno.  

Dalam hal ini terlihat juga nilai budaya melayu yang merupakan akulturasi islam di Nusantara, khususnya pada pesantren – pesantren tradisional yaitu berupa tulisan arab pegon, karena para santri biasanya menuliskan terjemahan dalam tulisan arab pegon (bahasa sunda yang di tulis dengan huruf hijaiyyah). Sedangkan para penulis naskah kuno menuliskannya dengan penjelasan bahasa arab kembali.
Selain budaya melayu yang masuk, ternyata penerjemahan dengan model penulisan arab pegon ini di anggap lebih mudah dan cepat daripada menuliskan penerjemahan dengan model bahasa Indonesia, dapat di bandingkan dalam contoh jika kita menuliskan ‘ada apa’ dalam bentuk arab pegon, kita hanya membutuhkan empat kumpulan huruf hijaiyyah saja yakni اد اف sedangkan dalam bahasa Indonesia kita membutuhkan enam  huruf alphabet, lebih singkat penulisan pegon bukan? Dengan begitu, para santri lebih senang menerjemahkan dengan tulisan pegon karena di anggap lebih efektif.
Perbedaannya, jika dalam penulisan naskah kuno Matan/Isi/Teks Asli di tulis di lembar tengah sementara Kodek/Penjelasannya di tulis di sisi/sekitar Teks, sedangkan model penulisan santri di pesantren tradisional justru kebalikan dari penulisan naskah kuno.

Dengan demikian, semakin terlihat lah pengaruh berkembangnya sumber pengetahuan islam terhadap dunia saat ini sampai ke tatanan metode pembelajaran dalam dunia pendidikan yang mana metode pembelajaran seperti ini masih di gunakan di pesantren – pesantren tradisional hingga hari ini.

-Sekian. Belajar Nulis. Correct Me If I’m Wrong. 

Sumber :
Mencoba mengingat Mata Kuliah Pengantar Makhthuthoh (Kajian Filologi) yang di sampaikan oleh Ibunda Dr. H. Titin Nurhayati Ma’mun, M.S. selaku dosen dan Filolog.
Mencoba Mengingat Mata Pelajaran Ilmu Kalam tentang Salafi, tradisional, dan Modern yang di sampaikan oleh Pak Kiayi Daman.
Wikipedia
Terakhir Ingatan yang masih harus di ingatkan.