Bismillah..
Ntah kenapa akhir-akhir ini banyak skenario cinta menakjubkan
yang Allah titipkan pada anak manusia, melalui orang-orang terdekat
sekelilingku. Ah, Allah.. betapa luar biasanya engkau yang dengan rapi menyusun
skenario itu, pastinya lebih rapi dari buatan para sutradara sinetron, ataupun
film di bumi ini. Tak tertndingi, sungguh luar biasa sekali. Klimaks, anti
klimaks, dan ending yang benar-benar diluar dugaan. Kau titipkan semuanya pada
makhluk yang bernama manusia, agar kita senantiasa berfikir dan mengambil
pelajaran dari itu semua.
Sayang sekali, jika melewatkan kisah-kisah itu berlalu tanpa
pembelajaran yang kita dapat. lebih baik lagi kita aplikasikan sebagai cermin
dimasa yang akan datang.
Puncaknya, di siang itu dibawah terik matahari yang lumayan
menyengat yang akhirnya membuat kami memilih berteduh di bawah lingkaran tempat
duduk menyerupai tangga kecil beratap, disitulah tempat empat anak manusia itu
mencurahkan isi hatinya tentang kisah yang sedang mereka jalani, dan merekalah
aktor dan aktrisnya. Aku yang hanya berperan sebagai peran pendukung dalam
kisah itu ikut dengan seksama memerhatikan kata demi kata yang keluar dari
mulut ketiga anak manusia itu. Kemudian membuatku ikut berfikir dan merenung,
kembali lagi bergumam “Allah... betapa luar biasanya engkau.” Bagaimana engkau
bisa mengemas kedewasaan melalui kisah itu, bagaimana engkau bisa mengemas
perintah agar kita selalu berintrospeksi diri, bagaimana engkau mengemas kisah
itu menjadi kisah yang menyadarkan kita agar kita berhati-hati dalam berbuat karena
mungkin perbuatan kita yang kecil akan menyakiti orang lain. Bagaimana Engkau
menyadarkan kita bahwa mungkin segala tindakan kita akan berpengaruh pada orang
lain, bagaimana engkau memperingatkan kita agar tidak perlu menyesali atas
apapun yang sudah terjadi, tentu semua itu Engkau suguhkan melalui kisah yang
kembali kami bahas di siang itu. Emosi, perasaan, keadaan, semuanya terungkap
sampai menjelang ashar.
dari situlah aku berpikir dan mengingat, mungkin sudah banyak kisah anak
manusia yang sudah terekam dalam memori otak yang terbatas kapasitasnya ini,
dan bertanya lalu pelajaran apa yang didapat? Terus gimana? Harus bagaimana? Hhm,
Senjapun menemaniku berpikir dipojok kamar asrama yang saat
itu hanya ada aku peghuninya....
Ribuan kisah dengan skenario yang berbeda tentang si ‘cinta’ pun pasti sedang
dialami, ataupun pernah dialami oleh ribuan anak manusia di luar sana, dengan
klimaks, anti klimaks, dan ending yang berbeda. Hanya satu yang sama, kisah itu
Allah suguhkan agar kita “belajar.” Belajar apapun dari banyak hal.
Sejujurnya kita pasti sudah mengetahui teorinya, teori
bagaimana kisah itu datang memberikan pelajaran untuk kita, teori bahwa kita
harus sabar, kita harus bersikap dewasa, kita tidak boleh itu, tidak boleh ini,
pasti sudah mengetahuinya. Yap, memang yang sulit itu mengaplikasikan teori tersebut.
Semua bisa dilakukan asalkan kita berniat untuk mengaplikasikannya,.
Persoalan yang paling pelik dari kisah-kisah yang terekam
dalam memori ini, adalah bagaimana orang-orang ingin melupakan semua
tentang kisah pahit yang pernah menghiasi hati kita. Menurutku, tidak akan bisa saat kita sudah di anugerahi
rasa. Kecuali jika kita amnesia. Meskipun waktu berlalupun tidak akan lupa,
bohong jika ada orang yang bilang “Saya sudah bisa melupakannya” ketika dia
berbicara seperti itu pun secara otomatis dia ingat tentang apa yang dia
lupakan.
Sekali lagi, meskipun waktu berlalu kita tetap akan ingat,
tidak akan pernah lupa. Namun yang perlu digaris bawahi adalah pasti ada yang
berubah saat waktu berlalu, porsi ingatannya yang berubah dan perasaannya yang
berubah. Pasti ingat meskipun sedikit, namun perasaan kita mengingat saat ini
dengan perasaan waktu dulu kita mengingat tentang ini itu pasti akan berbeda,
bisa saja perasaannya sudah biasa aja, atau justru perasaanya yang semakin
mendalam. Perasaan yang sudah biasa sajalah (kadarnya berkurang) yang bisa
sedikit demi sedikit mengikis ingatan tentang kisahnya (walaupun tidak akan
semuanya).
Jadi, yang berubah itu perasaan, ingatan bisa berubah karena perasaan. Melupakan itu, bukan memaksakan untuk lupa.Tidak perlu lah berusaha dengan berlebihan untuk melupakannya, Itu sama saja kita memaksakan diri terhadap apa yang kita tidak bisa, semakin dipaksa, akan semakin ingat. *ups, teori dari mana ya* karna semakin ingin kita melupakannya bayangannya akan semakin ada dalam pikiran kita. So, jalani saja dengan sewajarnya. Biarkan Allah yang mengantarkan kita pada waktu tepat dimana Ia berkehendak, bahwa perasaan kita akan berubah dengan sendirinya. Bukan dengan sendirinya, tapi berkat Allah. Allah tidak ingin kita menjadi ‘prematur’, sehingga tunggu saja perantara waktu yang akan merubah semuanya. Karena waktu adalah sebaik-baiknya jawaban. J
Yang terpenting adalah, saat kita menyesali apa yang pernah terjadi sama saja kita menyesali apa yang sudah Allah gariskan kepada kita, So. Berhenti menyesali keadaan. J
*teori sementara berdasarkan akal dan persaan, kalo ada teori baru yang lebih
relevan mungkin yang inipun tergantikan.
Terimakasih :)