Mengenai Saya

Foto saya
Bandung-Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia
menulislah dengan hati, karena denganya kau bisa sampaikannya pada hati. Hanya ingin berbagi manfaat, semoga dapat benar-benar bermanfaat :)

Pengikut

Jumat, 11 Oktober 2013

untuk yang Satu

Gulatan asa lemah merona
Mengendapi rasa tertabur derita
Dalam penjara yg tak sahabati jiwa
Tak kuasa gerakkan kaki diam tak bersahaja

Dengan sempoyongan kaki menapaki
Menghanyutkan diri dibalik jeruji suci
Walau 720 hari tak kunjung sahabati diri
Tetap hati ini tak mampu ingkari jalan haqiqi

Kembali terhanyut dalam romantisme rasa yang begitu syahdu
Lembut menyapa berbisik pilu
Walau terkulai kaku dari pojok biru
Tapi sejatinya semua terasa cukup demi yang Satu.

#Cileunyi,230913'

Kamis, 10 Oktober 2013

tawanan, tertahan.

tak beralasan semua terputar
membayangkannya saja membuat gemetar
semua mengalir hingga memancar
kemudian menahan menjadi hal yang sukar

sembilan belas memang bukan angka yang besar
tapi pahit manis sudah pernah tergelar menggelegar
melawan asa yang terus berkoar
mencoba bersahabat dengan skenario yang melingkar

kemudian berceceran tinggi jauh dari atas pepohonan
terhampar luas terbang meng-awan
masih belum terlihat sapaan langit yang menawan
padahal sudah menjelma bak tawanan perasaan

akhirnya hujanpun tawarkan penyampaian
walau lewat rintik terbaik yang penuh senyuman
takkan membuat merubah pandangan
bisa memandang lebih lama, wajahnya yang rupawan...

Dedicated for #GrandMa
Cileunyi, 11 Okt 00:00

Senin, 07 Oktober 2013

Detik, menggelitik.

Bismillah...

:)
Alhamdulillah 'alaa kulli haalin, yang dengan rahmat-Nya Ia izinkan makhluq-Nya kembali mencoba memahami setiap detik yang menggelitik, semoga dapat menjadi kritik yang kemudian mendidik..
Alhamdulillah 'alaa kulli haalin, yang dengan karunia-Nya Ia izinkan makhluq-Nya kembali memandang lebih dalam, kemudian keluar dari pandangan kelam, yang menjadikannya terkadang hitam.

Hidup ini memang keras, sangat keras.
Sakit rasanya saat setiap hari harus melihat sekelompok ibu dan bapak yang berjejer pagi hari di depan gerbang kampus dengan alas seadanya menyodorkan tangan berharap ada yang memiliki keikhlasan hati untuk sedikit berbagi rezeki.
Ya, hidup ini memang keras, sangat keras.
saat setiap hari harus melihat seorang bapak yang Allah taqdirkan tangan kirinya Ia ambil terlebih dahulu, sementara setiap hari si bapak harus berusaha menggunakan sebelah tangan yang tersisa mengorek tempat sampah berharap temukan barang yang masih layak ia jual.
Hidup ini memang keras, sangat keras.
Saat setiap hari melihat anak berusia 13 tahun itu berkeliling fakultas, yang jika kita amati anak-anak seusianya bisa bermain dengan teman-temannya atau belajar di rumah, sementara ia menghabiskan waktu siang sampai sore dengan berjualan makanan ringan demi membantu kehidupan keluarganya dan untuk membiayai adiknya sekolah.
Hidup ini memang keras, sangat keras.
Saat terlihat senja sudah mulai menguning, namun terlihat juga tumpukan dagangan-dagangan mereka masih menggunung denga wajah lelah tetap menyodorkannya berharap ada yang dengan ikhlas membeli dagangan-dagangannya. kemudian senja terus menguning...

Kemudian jiwa ini tersesak, saat semua harus ku telan pahit lewat pandangan yang mengiris.
tapi ingatlah firman-Nya "Tidak akan kamu lihat sesuatu yg tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?" (Qs. 67:3) ya, memang seimbang bukan berarti simetris.
Juga ketahuilah, roda itu berputar.  Adakalanya berputar dengan cepat, sangat cepat, namun adakalanya ia berputar begitu lambat, sangat lambat. Tapi yakinlah cepat atau lambat ia akan tetap berputar, kapanpun itu.
Begitu juga dengan apa yang kita lihat, suatu hari nanti tidak ada kemustahilan Allah menakdirkan kita menjadi yang 'di lihat' kemudian yang di lihat menjadi yang 'melihat'.
karena tidak selamanya kita akan melangkah diatas anak tangga yang pertama, masih banyak anak tangga selanjutnya yang harus kita lalui.
Qoddarallahu maa syaa-a fa'ala.

Hidup ini memang keras, sangat keras.
tapi, melembutlah terhadap yang keras hingga kelembutan itu menyatu dan melebur kalahkan yang keras.

Maka, bersyukur adalah kunci dalam menjalani kehidupan yang keras.
dengan syukur yang melembutkan
dengan syukur yang menentramkan
dengan syukur yang mendamaikan
dengan syukur yang mengikhlaskan...


#Tulisan sederhana, untuk yang sederhana :)