Sebagaimana
telah kita ketahui sejarah mengatakan bahwa Islam merupakan sumber ilmu
pengetahuan terkaya yang ada di muka bumi ini, kita tahu bahwa Ilmuwan-ilmuwan
Islam sudah lahir sejak Masa Kenabian yang kemudian memberikan kontribusi agung
terhadap dunia pendidikan dan Ilmu Pengetahuan yang hingga saat ini sudah
banyak di adopsi oleh ilmuwan – ilmuwan dunia.
Bentuk nyatanya
adalah Sumber Ilmu Pengetahuan yang kita pegang saat ini, baik dalam bentuk
tulisan ilmiah yang di bukukan, teori, sastra, dll merupakan salah satu bentuk
pengadopsian Ilmu Pengetahuan yang bersumber dari Islam itu sendiri yang sebelumnya
telah melalui proses panjang dalam pengedisian (penyuntingan) dari Teks aslinya
yang kita kenal dengan istilah Naskah Kuno atau Manuskrip. *dalam
tulisan ini saya tidak akan terlalu banyak membahas tentang naskah maupun
filologi.
Naskah Kuno
atau Manuskrip merupakan dokumen dalam bentuk apapun berusia
lima puluh tahun lebih yang di tulis
dengan tangan yang dalam mempelajarinya/menelitinya di sebut dengan kajian Ilmu
Filologi. Melalui Naskah-naskah inilah Ilmu Pengetahuan Islam berkembang
hingga menjadi kumpulan tulisan-tulisan yang di cetak, di bukukan, dan di
sebarluaskan hingga saat ini, karena buku-buku yang kita pegang saat ini pada
mulanya berbentuk naskah dengan Teks yang ditulis tangan.
Pada mulanya
proses penyebar luasan Ilmu Pengetahuan Islam adalah dengan cara dari mulut ke
mulut sama halnya saat Rasul menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Sahabat,
namun dalam rangka terjaganya ingatan dan ilmu tersebut pun agar tersampaikan
pada generasi setelahnya muncullah inisiatif untuk menuliskan apa yang di
sampaikan ‘ulama (Ilmuwan-Ilmuwan) islam pada masa itu, misalnya Ibnu Sina dengan
Ilmu Kedokterannya, Albattani dengan Ilmu Astronominya, serta ‘ulama yang ahli
di bidang masing-masing.
Dalam sejarahnya,
dikatakan bahwa dahulu saat ‘ulama islam menyampaikan pelajaran (sebuah ilmu) terhadap murid-muridnya adalah dengan metode Mendengar
dan Mencatat. Lebih detailnya, sang ‘ulama
menjelaskan isi tulisan kemudian murid-muridnya mencatat penjelasan tersebut di
sisi atau di sekitar teks yang ada dalam naskah tersebut yang dalam Ilmu
Filologi tulisan tentang penjelasan isi tersebut dikenal dengan sebutan Kodek
(cmiiw), sehingga naskah tersebut menjadi penuh dengan tulisan sang murid atas
penjelasan ‘ulama.
Hal ini juga
yang mempengaruhi macam-macam penjelasan ‘ulama masa kini terhadap teks asli
karena daya tangkap yang berbeda sehingga berbeda-beda pula bentuk penulisan
dari sang penyalin, namun tetap dengan maksud yang sama. Perlu saya sampaikan
lebih detail tentang bentuk Naskah dan Teks bahwa yang di maksud dengan Naskah
dalam ilmu filologi adalah kertas (Papyrus) yang mengandung Teks/tulisan,
sedangkan Teks adalah Tulisan yang ada dalam Naksah.
Kembali lagi
ke metode, jika kita menilik metode penyampaian ‘ulama islam dahulu dan
penulisan murid-muridnya ternyata memberikan pengaruh terhadap pesantren tradisional
saat ini. Pesantren sebagai wadah yang lebih fokus pada transformasi nilai –
nilai keislaman ini, dalam metode pembelajarannya banyak menganut budaya Metode
penyalinan teks pada zaman Ilmuwan Islam (berkenaan dengan edisi teks) yakni Mendengar
dan Mencatat.
Saat ini,
saya sebagai orang yang sedang menimba ilmu di salah satu pesantren
Tradisional, sedikitnya faham akan model pembelajaran yang di terapkan di
pesantren-pesantren tradisional, masyarakat luas mengartikan bahwa pesantren
tradisional adalah pesantren yang mempelajari kitab kuning sebagai sumber
pengetahuan, banyak juga yang mengartikan bahwa pesantren tradisional disebut juga
sebagai pesantren salafi sedangkan dalam makna aslinya salafi merupakan
pesantren/wadah yang focus mempelajari Quran dan Hadits saja.
Dalam metode
pembelajarannya ternyata banyak menganut budaya penulisan pada zaman
shahabiyah, jika di pesantren tradisional terdapat istilah ‘ngaloghat’ atau
‘melogat’ yang secara bahasa artinya adalah ‘membahasakan’ namun pada
prosesnya ‘ngaloghat’ atau ‘melogat’ adalah proses menerjemahkan
secara leksikal yang di tulis oleh santri berdasarkan keterangan dari sang
Guru. Prosesnya biasanya murid menerjemahkan dengan model menulis makna dengan
tulisan miring di bawah teks asli (matan/isi) kitab tersebut, namun jika dalam
Naskah Kuno tulisan miring tersebutlah yang di maksud dengan Kodek sedangkan
dalam kitab Kuning yang memiliki makna sama dengan istilah Kodek terkenal
dengan sebutan Syarah Kitab (Penjelasan Kitab). Model
penulisan miring yang dilakukan oleh santri tersebutlah yang mengadopsi model
penulisan Kodek dalam Naskah Kuno.
Dalam hal ini
terlihat juga nilai budaya melayu yang merupakan akulturasi islam di Nusantara,
khususnya pada pesantren – pesantren tradisional yaitu berupa tulisan arab
pegon, karena para santri biasanya menuliskan terjemahan dalam tulisan arab
pegon (bahasa sunda yang di tulis dengan huruf hijaiyyah). Sedangkan para
penulis naskah kuno menuliskannya dengan penjelasan bahasa arab kembali.
Selain budaya
melayu yang masuk, ternyata penerjemahan dengan model penulisan arab pegon ini
di anggap lebih mudah dan cepat daripada menuliskan penerjemahan dengan model bahasa
Indonesia, dapat di bandingkan dalam contoh jika kita menuliskan ‘ada apa’
dalam bentuk arab pegon, kita hanya membutuhkan empat kumpulan huruf hijaiyyah saja
yakni اد اف sedangkan dalam
bahasa Indonesia kita membutuhkan enam
huruf alphabet, lebih singkat penulisan pegon bukan? Dengan begitu, para
santri lebih senang menerjemahkan dengan tulisan pegon karena di anggap lebih
efektif.
Perbedaannya,
jika dalam penulisan naskah kuno Matan/Isi/Teks Asli di tulis di lembar tengah
sementara Kodek/Penjelasannya di tulis di sisi/sekitar Teks, sedangkan model
penulisan santri di pesantren tradisional justru kebalikan dari penulisan
naskah kuno.
Dengan demikian,
semakin terlihat lah pengaruh berkembangnya sumber pengetahuan islam terhadap
dunia saat ini sampai ke tatanan metode pembelajaran dalam dunia pendidikan
yang mana metode pembelajaran seperti ini masih di gunakan di pesantren –
pesantren tradisional hingga hari ini.
-Sekian.
Belajar Nulis. Correct Me If I’m Wrong.
Sumber :
Mencoba
mengingat Mata Kuliah Pengantar Makhthuthoh (Kajian Filologi) yang di sampaikan
oleh Ibunda Dr. H. Titin Nurhayati Ma’mun, M.S. selaku dosen dan Filolog.
Mencoba
Mengingat Mata Pelajaran Ilmu Kalam tentang Salafi, tradisional, dan Modern
yang di sampaikan oleh Pak Kiayi Daman.
Wikipedia
Terakhir Ingatan
yang masih harus di ingatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar