Mengenai Saya

Foto saya
Bandung-Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia
menulislah dengan hati, karena denganya kau bisa sampaikannya pada hati. Hanya ingin berbagi manfaat, semoga dapat benar-benar bermanfaat :)

Pengikut

Selasa, 03 Desember 2013

Batal ng-MC, banyak hikmahnya :D


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Q.s. Al-Baqarah : 216)

Jadi langsung aja nih ya cerita.. mudah-mudahan bisa berbagi hikmah :)
Sejak dari dulu saya sangat tertarik sekali dengan dunia broadcast yang beraliran public speaking entah itu ng-MC, presenter berita, penyiar radio, atau apapun yang semacamnya. Tapi ternyata, banyak keadaan yang kemudian mengarahkan saya secara otodidak lebih khusus belajar untuk memandu setiap acara, bahasa kerennya MC lah yah.. hehe :D baik untuk acara-acara formal maupun nonformal, yaa walaupun bisa dibilang acaranya masih event kecil-kecilan dan gak berbayar masih di bilang MC amatiran. hehe :) tapi berkat hobby saya enjoy-enjoy aja dengan kegiatan itu, justru mendatangkan banyak peluang untuk terus melatih passion dalam diri ini, saya sih beranggapan bahwa setiap kali saya ada job ngMC (udah kaya apa aja bahasanya nge'job' haha) itulah saatnya saya berekspresi menyampaikan 'pesan' dan saya anggap kesempatan itu sebagai kesempatan untuk saya belajar menjadi inspirasi untuk orang lain, sekecil apapun bentuk inspirasi itu.. hehe yang jelas mudah-mudahan orang yang melihat saya bisa mengambil sedikit sesuatu yang baik dari apa yang saya sampaikan ketika saya berbicara di hadapan umum.

Nah, bermula dari hoby lah yang kemudian sekarang sesekali ada yang menawarkan untuk ngMC dalam suatu acara, baik lokal (kampus) maupun diluar kampus.
Hingga berlanjut pada satu minggu yang lalu, setelah ada beberapa aktivitas kampus yang saya ikuti membuat kondisi badan saya terbilang tidak sehat dan suara menghilang begitu saja, bertepatan dengan itu pula saya ditawari untuk menjadi MC pada sebuah event lumayan besar yang membuat saya benar-benar tidak berkeinginan untuk menolak.

_bersambung-

Jumat, 11 Oktober 2013

untuk yang Satu

Gulatan asa lemah merona
Mengendapi rasa tertabur derita
Dalam penjara yg tak sahabati jiwa
Tak kuasa gerakkan kaki diam tak bersahaja

Dengan sempoyongan kaki menapaki
Menghanyutkan diri dibalik jeruji suci
Walau 720 hari tak kunjung sahabati diri
Tetap hati ini tak mampu ingkari jalan haqiqi

Kembali terhanyut dalam romantisme rasa yang begitu syahdu
Lembut menyapa berbisik pilu
Walau terkulai kaku dari pojok biru
Tapi sejatinya semua terasa cukup demi yang Satu.

#Cileunyi,230913'

Kamis, 10 Oktober 2013

tawanan, tertahan.

tak beralasan semua terputar
membayangkannya saja membuat gemetar
semua mengalir hingga memancar
kemudian menahan menjadi hal yang sukar

sembilan belas memang bukan angka yang besar
tapi pahit manis sudah pernah tergelar menggelegar
melawan asa yang terus berkoar
mencoba bersahabat dengan skenario yang melingkar

kemudian berceceran tinggi jauh dari atas pepohonan
terhampar luas terbang meng-awan
masih belum terlihat sapaan langit yang menawan
padahal sudah menjelma bak tawanan perasaan

akhirnya hujanpun tawarkan penyampaian
walau lewat rintik terbaik yang penuh senyuman
takkan membuat merubah pandangan
bisa memandang lebih lama, wajahnya yang rupawan...

Dedicated for #GrandMa
Cileunyi, 11 Okt 00:00

Senin, 07 Oktober 2013

Detik, menggelitik.

Bismillah...

:)
Alhamdulillah 'alaa kulli haalin, yang dengan rahmat-Nya Ia izinkan makhluq-Nya kembali mencoba memahami setiap detik yang menggelitik, semoga dapat menjadi kritik yang kemudian mendidik..
Alhamdulillah 'alaa kulli haalin, yang dengan karunia-Nya Ia izinkan makhluq-Nya kembali memandang lebih dalam, kemudian keluar dari pandangan kelam, yang menjadikannya terkadang hitam.

Hidup ini memang keras, sangat keras.
Sakit rasanya saat setiap hari harus melihat sekelompok ibu dan bapak yang berjejer pagi hari di depan gerbang kampus dengan alas seadanya menyodorkan tangan berharap ada yang memiliki keikhlasan hati untuk sedikit berbagi rezeki.
Ya, hidup ini memang keras, sangat keras.
saat setiap hari harus melihat seorang bapak yang Allah taqdirkan tangan kirinya Ia ambil terlebih dahulu, sementara setiap hari si bapak harus berusaha menggunakan sebelah tangan yang tersisa mengorek tempat sampah berharap temukan barang yang masih layak ia jual.
Hidup ini memang keras, sangat keras.
Saat setiap hari melihat anak berusia 13 tahun itu berkeliling fakultas, yang jika kita amati anak-anak seusianya bisa bermain dengan teman-temannya atau belajar di rumah, sementara ia menghabiskan waktu siang sampai sore dengan berjualan makanan ringan demi membantu kehidupan keluarganya dan untuk membiayai adiknya sekolah.
Hidup ini memang keras, sangat keras.
Saat terlihat senja sudah mulai menguning, namun terlihat juga tumpukan dagangan-dagangan mereka masih menggunung denga wajah lelah tetap menyodorkannya berharap ada yang dengan ikhlas membeli dagangan-dagangannya. kemudian senja terus menguning...

Kemudian jiwa ini tersesak, saat semua harus ku telan pahit lewat pandangan yang mengiris.
tapi ingatlah firman-Nya "Tidak akan kamu lihat sesuatu yg tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?" (Qs. 67:3) ya, memang seimbang bukan berarti simetris.
Juga ketahuilah, roda itu berputar.  Adakalanya berputar dengan cepat, sangat cepat, namun adakalanya ia berputar begitu lambat, sangat lambat. Tapi yakinlah cepat atau lambat ia akan tetap berputar, kapanpun itu.
Begitu juga dengan apa yang kita lihat, suatu hari nanti tidak ada kemustahilan Allah menakdirkan kita menjadi yang 'di lihat' kemudian yang di lihat menjadi yang 'melihat'.
karena tidak selamanya kita akan melangkah diatas anak tangga yang pertama, masih banyak anak tangga selanjutnya yang harus kita lalui.
Qoddarallahu maa syaa-a fa'ala.

Hidup ini memang keras, sangat keras.
tapi, melembutlah terhadap yang keras hingga kelembutan itu menyatu dan melebur kalahkan yang keras.

Maka, bersyukur adalah kunci dalam menjalani kehidupan yang keras.
dengan syukur yang melembutkan
dengan syukur yang menentramkan
dengan syukur yang mendamaikan
dengan syukur yang mengikhlaskan...


#Tulisan sederhana, untuk yang sederhana :)

Kamis, 08 Agustus 2013

Damai Menjemput Waktu

Mengalirlah...
seperti air yang begitu tenang dalam perjalanan alirannya
tanpa keluhkan tumpuk bebatuan dihadapannya

Berdamailah...
seperti raja siang yang dengan tulus pancarkan sinarnya
tanpa berkeluh kesah saat senja tiba tuk menggantikannya

Tenanglah...
seperti detik yang berganti menit
tanpa berkeluh kesah ia kan pergi tinggalkan rumit

Bersabarlah...
seperti rembulan malam yang menunggu giliran menggantikan senja.
tanpa mengeluhkan mentari yang sudah bergegas pula di ufuk timur sana

Bicaralah...
pada-Nya yang suguhkan cuplikan skenario baru
hingga hati mendadak bisu
karena semua ikut tergagap pilu

Yakinilah..
sang Maha Sutradara sudah mengemas skenario terindahNya
sampai akhirnya terbingkai memesona dihadapan siapa saja yang meyakini ke-Maha SutradaraanNya.


Sukabumi 090813'.

Re-Post si Seandainya dan si Mungkin

Seandainya saja..
tak ada suara yang menyapa
mungkin tak ada kata yang tanggapi cerita
hingga berubah timbulkan prasangka rasa

Seandainya saja..
tak ada rasa yang disampaikan bait
mungkin semua takkan menjadi rumit
tetapi akhirnya malah jadi tercubit, menggelumit.

Seandainya saja..
tak ada bola mata yang bertatap
mungkin tak ada tingkah yang kadang menjadi kalap
hingga tak bisa menyangkal dengan sigap

tapi,
Seandainya saja..
semua tak disandarkan pada yang meRajai Rasa
mungkin akan jauh dari taburan rahmatNya
hingga kan terus bermuram durja
karena hati terus merana tersayat derita
oleh prasangka rasa yang kadang tak benar adanya
padahal sang waktu sudah melambai dewasa

ah, Allah.. Maafkan si anak manusia...


Bandung, 25 Juli 2013

Re-post Karena Jarak

wajah semakin pucat
tubuh semakin renta
tapi jarak semakin jauh
namun tatap wajah enggan bersahabat dalam waktu dekat

padahal si merah dalam tubuh sudah mulai memberontak
seperti narapidana yang ingin keluar dari balik jeruji yang menyayat
meneriaki waktu yang tak mau berlari cepat
tapi langkah tetap tak sampai 

ingin rasanya memindahkan bangungan ini tepat dipinggir bangunan rumahmu
agar jarak selalu bersahabat
agar cinta kasihmu semakin hebat terlihat
agar hujan tak perlu lagi sampaikan pukat

hingga rindu yang teramat, tersampaikan dalam waktu cepat

kau tahu? semua ini tak cukup dengan ribuan karakter huruf yang dikirim tuk mewakilinya
ah, maafkan puterimu ini...


Bandung, 23 Juli 2013

Sabtu, 06 Juli 2013

Tentang kisah anak manusia

Bismillah..
Ntah kenapa akhir-akhir ini banyak skenario cinta menakjubkan yang Allah titipkan pada anak manusia, melalui orang-orang terdekat sekelilingku. Ah, Allah.. betapa luar biasanya engkau yang dengan rapi menyusun skenario itu, pastinya lebih rapi dari buatan para sutradara sinetron, ataupun film di bumi ini. Tak tertndingi, sungguh luar biasa sekali. Klimaks, anti klimaks, dan ending yang benar-benar diluar dugaan. Kau titipkan semuanya pada makhluk yang bernama manusia, agar kita senantiasa berfikir dan mengambil pelajaran dari itu semua.
Sayang sekali, jika melewatkan kisah-kisah itu berlalu tanpa pembelajaran yang kita dapat. lebih baik lagi kita aplikasikan sebagai cermin dimasa yang akan datang.

Puncaknya, di siang itu dibawah terik matahari yang lumayan menyengat yang akhirnya membuat kami memilih berteduh di bawah lingkaran tempat duduk menyerupai tangga kecil beratap, disitulah tempat empat anak manusia itu mencurahkan isi hatinya tentang kisah yang sedang mereka jalani, dan merekalah aktor dan aktrisnya. Aku yang hanya berperan sebagai peran pendukung dalam kisah itu ikut dengan seksama memerhatikan kata demi kata yang keluar dari mulut ketiga anak manusia itu. Kemudian membuatku ikut berfikir dan merenung, kembali lagi bergumam “Allah... betapa luar biasanya engkau.” Bagaimana engkau bisa mengemas kedewasaan melalui kisah itu, bagaimana engkau bisa mengemas perintah agar kita selalu berintrospeksi diri, bagaimana engkau mengemas kisah itu menjadi kisah yang menyadarkan kita agar kita berhati-hati dalam berbuat karena mungkin perbuatan kita yang kecil akan menyakiti orang lain. Bagaimana Engkau menyadarkan kita bahwa mungkin segala tindakan kita akan berpengaruh pada orang lain, bagaimana engkau memperingatkan kita agar tidak perlu menyesali atas apapun yang sudah terjadi, tentu semua itu Engkau suguhkan melalui kisah yang kembali kami bahas di siang itu. Emosi, perasaan, keadaan, semuanya terungkap sampai menjelang ashar.
dari situlah aku berpikir dan mengingat, mungkin sudah banyak kisah anak manusia yang sudah terekam dalam memori otak yang terbatas kapasitasnya ini, dan bertanya lalu pelajaran apa yang didapat? Terus gimana? Harus bagaimana? Hhm,

Senjapun menemaniku berpikir dipojok kamar asrama yang saat itu hanya ada aku peghuninya....
Ribuan kisah dengan skenario yang berbeda tentang si ‘cinta’ pun pasti sedang dialami, ataupun pernah dialami oleh ribuan anak manusia di luar sana, dengan klimaks, anti klimaks, dan ending yang berbeda. Hanya satu yang sama, kisah itu Allah suguhkan agar kita “belajar.” Belajar apapun dari banyak hal.

Sejujurnya kita pasti sudah mengetahui teorinya, teori bagaimana kisah itu datang memberikan pelajaran untuk kita, teori bahwa kita harus sabar, kita harus bersikap dewasa, kita tidak boleh itu, tidak boleh ini, pasti sudah mengetahuinya. Yap, memang yang sulit itu mengaplikasikan teori tersebut. Semua bisa dilakukan asalkan kita berniat untuk mengaplikasikannya,.
Persoalan yang paling pelik dari kisah-kisah yang terekam dalam memori ini, adalah bagaimana orang-orang ingin melupakan semua tentang kisah pahit yang pernah menghiasi hati kita. Menurutku,  tidak akan bisa saat kita sudah di anugerahi rasa. Kecuali jika kita amnesia. Meskipun waktu berlalupun tidak akan lupa, bohong jika ada orang yang bilang “Saya sudah bisa melupakannya” ketika dia berbicara seperti itu pun secara otomatis dia ingat tentang apa yang dia lupakan.
Sekali lagi, meskipun waktu berlalu kita tetap akan ingat, tidak akan pernah lupa. Namun yang perlu digaris bawahi adalah pasti ada yang berubah saat waktu berlalu, porsi ingatannya yang berubah dan perasaannya yang berubah. Pasti ingat meskipun sedikit, namun perasaan kita mengingat saat ini dengan perasaan waktu dulu kita mengingat tentang ini itu pasti akan berbeda, bisa saja perasaannya sudah biasa aja, atau justru perasaanya yang semakin mendalam. Perasaan yang sudah biasa sajalah (kadarnya berkurang) yang bisa sedikit demi sedikit mengikis ingatan tentang kisahnya (walaupun tidak akan semuanya).

Jadi, yang berubah itu perasaan, ingatan bisa berubah karena perasaan. Melupakan itu, bukan memaksakan untuk lupa.Tidak perlu lah berusaha dengan berlebihan untuk melupakannya, Itu sama saja kita memaksakan diri terhadap apa yang kita tidak bisa, semakin dipaksa, akan semakin ingat. *ups, teori dari mana ya*  karna semakin ingin kita melupakannya bayangannya akan semakin ada dalam pikiran kita. So, jalani saja dengan sewajarnya. Biarkan Allah yang mengantarkan kita pada waktu tepat  dimana Ia berkehendak, bahwa perasaan kita akan berubah dengan sendirinya. Bukan dengan sendirinya, tapi berkat Allah. Allah tidak ingin kita menjadi ‘prematur’, sehingga tunggu saja perantara waktu yang akan merubah semuanya. Karena waktu adalah sebaik-baiknya jawaban. J

Yang terpenting adalah, saat kita menyesali apa yang pernah terjadi sama saja kita menyesali apa yang sudah Allah gariskan kepada kita, So. Berhenti menyesali keadaan. J

*teori sementara berdasarkan akal dan persaan, kalo ada teori baru yang lebih relevan mungkin yang inipun tergantikan.


Terimakasih :)

Jumat, 05 Juli 2013

sedang rumit

terlalu banyak kata yang ingin ku ungkapkan detik ini, tapi justru karena terlalu banyaknya itulah akhirnya si kata-kata berlarian entah kemana.
masalah ini masalah itu, urusan ini urusan itu, ah rumit sekali..
sedang rumit, jangan ditiru :p

Jumat, 14 Juni 2013

sudahkah kau titipkan pada waktu?

mengapa damai tak disisimu saat ini?
mengapa keheningan yang disisimu? Seolah tak ingat keambiguanmu?

Wow! Menjebak aku didalam terkaan dan dugaan yang tak berujung!
Ingin menandingi dunia Yang jelas tak berujung? Hah... sudahkah kau titipkan pada waktu?

Apa apa apa? Tertutup kata? Ya memang benar, hingga kata terkadang selalu jadi kambing hitam kesalahan, dan kau berhasil membuatku mengkambinghitamkannya..

Tidakkah kau bisa membantuku menafsirkan huruf2 itu? Menyibak makna yang terkurung keambiguannya selama ini? tidakkah kau bisa titipkan saja pada waktu??

*ya, hanya ini semoga kau melihat, kemudian membaca, lalu mengerti.

Sukabumi 170113 00:53

Kamis, 13 Juni 2013

hari ini 13 Jun 2013

Bismillah...
Maha Besar Allah, Tuhan yang mengatur segala rasa dalam hati, membolak balikkan rasa dan mengaturnya sedemikian rupa hingga tertata rapi lebih rapi dari semua tataan makhlukNya.
Ah Allah, sampai hari ini Kau masih menghiasi hatiku dengan rasa kepadanya hingga jika kata mampu berbicara ia mungkin sudah bosan ku pinjam untuk mendeskripsikan rasa tentangnya ini, tapi beruntunglah tak kau anugerahi alat ucap jadi si 'kata' pasrah-pasrah saja. :D
Perjalanan rasa ini mungkin sudah begitu panjang, tidak tahu pastinya kapan dan tidak tahu pula akan berhenti sampai kapan tapi tentunya Allah takkan membiarkan perjalanan rasa ini berjalan begitu saja tanpa meninggalkan banyak jejak mutiara hikmah yang bisa dijadikan spion kehidupan.
hhm, mungkin hampir semua orang pernah merasa. tentunya rasa yang berbeda, bukan hanya rasa senang, sedih, bahagia, suram, dsb. tetapi justru rasa yang menjadikan kita merasa senang, sedih, bahagia, suram, dan sebagainya. Itulah rasa yang justru semakin kita ingin berpaling dari rasa itu, rasa itu akan semakin dekat karena fikiran kita terfokus pada rasa ingin melupakannya, tidak heran jika kita menjadi sulit lupa. *jadi ingat terus*
Ah, memang Allah itu luar biasa.. sesungguhnya Ia yang Maha mengendalikkan rasa, Ia yang menggenggam rasa.. Ia yang mengatur segalanya, gantungkan rasamu padaNya karena Ia takkan melepasnya. :)

Allahu ma'ii, Allahu naadzirii, Allahu Syaahidii ^^

Senin, 13 Mei 2013

Fiktif...

Matahari mulai tinggalkan jejaknya perlahan-lahan, bukan karna ia bosan temani hari, namun ia sadari karna sekarang giliran bulan yang menjemput hari. Jalan raya yang sedang disusuri oleh kami semakin dipenuhi oleh mobil-mobil besar bermuatan barang-barang berat yang biasa di gunakan untuk mengantarkan barang ke luar kota yang mungkin jaraknya ratusan kilo meter dari ibu kota.
jalanan kota antara Purwakarta-Yogyakarta semakin ramai ditambah oleh mobil yang sedang mereka tumpangi, ya tepat pukul 23.00 WIB malam ini mereka sedang menyusuri jalanan yang biasa digunakan mobil-mobil besar bermuatan barang untuk diantar ke luar kota, dari Purwakarta menuju kota pendidikan Yogyakarta. bukan tanpa tujuan, bukan atas dasar ketidaksengajaan, namun semua sudah Allah atur sedemikian rupa, hingga Allah takdirkan hari ini tepat tanggal 10 Mei 2012 setelah 19 tahun lamanya bagiku, 22 tahun bagi kakak lelakiku kak Rio, dan 25 tahun lamanya bagi kakak perempuanku kak Seni tak pernah bertemu apalagi mengenal sosok wanita tua yang sudah berambut putih,  kulit putih yang semakin mengerut, postur badan yang tak tegak lagi, suara yang semakin tak jelas arah pembicaraannya. Nenek.
ya, semenjak ayah dan Ibu berpisah entah berapa puluh tahun silam tak pernah tahu pastinya, kami tak pernah ayah kenalkan dan tak pernah di pertemukan dengan orang tuanya (read : kakek, nenek). 19 tahun bagiku, waktu yang cukup lama, lama sekali tak pernah mengenal sosok seorang wanita tua itu, bahkan bodohnya tak pernah terlintas untuk bertemu dengannya. Rabbi.. ampuni aku. menjerit dalam hati saat mobil terus melintas ke arah kota pendidikan itu.

21 jam berlalu, tepat pukul 19.00 WIB melebihi batas normal perjalanan akhirnya sampailah kita di pusat kota Yogyakarta. namun belum menemukan tempat tujuan, kami masih berkeliling mencari alamat yang diberikan oleh ayah. Hingga pada akhirnya di depan rumah sakit "Permata Cinta" kami sudah ditunggu oleh seorang pria berkulit kecoklatan, tinggi sekitar 170 cm tersenyum lebar dan sigap memberhentikan mobil yang kita kendarai sambil bertanya "dari Purwakarta ya?" kami pun spontan menjawab "iya." "ya ikuti saya ya."jawab lelaki itu sambil mengendarai motornya.
Tidak jauh dar tepian rumah sakit itu, hanya lima menit saja kami tiba di depan rumah berpagar putih dan bercat hijau  disambut oleh ayah yang memang tinggal disitu.
Kami bertiga aku dan kakak-kakakku saling bertatap-tatap, diam sejenak, tersenyum, dan ada air yang menggenang kami tahan dari dua bola mata ini.Walaupun kami saling berdiam dan hanya berbicara lewat tatapan, tapi aku tahu dari kedua bola mata kita, ada bahasa hati yang tersampaikan bahwa kita merasakan hal yang sama. sedih, sakit, perih, luka, dan bahagia. sehingga tak sanggup lagi berkata.
Rabbiiii, hari ini setelah 25 tahun lamanya kami baru saja akan mengenal bagian keluarga kami yang sebelumnya tak pernah kami kenal. Nenek, Uwa, Tante, Om, Mas, dan yang lainnya.

Kamipun lekas turun dari mobil dan langsung menghampiri ayah, kucium tangannya ditambah dengan pelukan hangat beriring kerinduan.
Wanita paru baya berkerudung ping berdiri di depan pintu dan sudah meneteskan air mata sebelum aku menghampirinya, langsung saja aku datangi kucium tangannya sepersekian detik ia pun memelukku erat dan kencang sekali,  Ia ciumi wajahku, lalu ia memelukku kembali, masih dengan perasaan yang sama, kencang dan erat sekali seolah tak pernah ingin dilepas kembali. Aku kira itu adalah nenek, ternyata bukan. karna di dalam masih ada sosok wanita berrambut putih, yang postur badannya sudah tak tegak lagi sudah berdiri sedari tadi, lekas saja aku menghampirinya dan setengah menjatuhkan badan memeluk tubuhnya yang lemas. Ia bertanya "ini siapa?" tangisanku pun meledak sambil menjawab "ini reni nek, anak bungsu ayah." tangisan nenekpun semakin meledak, ia menciumiku, memeluk lebih erat dari wanita sebelumnya. erat sekali. pelukkan bergumpal kerinduan yang sudah disimpan selama 19 tahun tak tersampaikan. begitu erat, dan tak pernah ku ingin lepaskan pelukannya. *resapi dan rasakan* sama halnya dengan kakak-kakakku yang bergantian memeluk dan menciumi nenek.
Kami pun dikenalkan dengan anggota keluarga ayah, wanita berkerudung ping itu adalah kakak dari ayah (read : uwa) sosok pria gagah yang menjemput kami di rumah sakit tadi itu adalah sepupu kami, anak dari uwa, dan wanita satu lagi adalah istri dari kakak ayah. sementara kakek sudah meninggal sejak 6 tahun lalu, padahal belum sempat kami temui.

Kami sudah berkumpul di ruang tengah, kami bertiga masih terdiam , aku pun melamun, sesaat seolah kembali memutar memori masa lalu,dan menatap satu demi satu wajah-wajah yang baru kami kenal. sesaat justru tangisan kami kembali meledak, terlebih kak Rio, Ia menjatuhkan dirinya pada ibu mungkin tak kuasa membayangkan apa yang sudah terjadi perpisahan ayah dan ibu yang menjadikan kami seperti ini. Dirumah itu, aku merasakan kehangatan yang luar biasa, kerinduan yang selama ini terpendam, akhirnya baru saat itu meledak. spontan mungkin karna saking sakitnya dan hilang kontrol, aku memarahi keadaan dan menggerutu dalam hati "Kenapa Ibu dan Ayah mesti pisah, kenapa aku dilahirkan dari keluarga yang broken, kenapa mesti aku, kenapa kita bertiga yang harus menjadi korban, kenapa, kenapa kenapa kenapa aku kenapa kita? sakit, perih, sakit." Astaghfirullah, kembali tersadar dan beristighfar. Rabbiii ampuni kami. Kalau saja kalian merasakan bagaimana rasa sakit ini terus-terusan menghampiri saat itu, bayangkan saja rasanya mungkin seperti kalian terkenal luka di tangan oleh pisau, lalu luka tersebut yang masih bercucuran darah kembali digores-gores berulang-ulang dengan sengaja (seperti orang memotong kayu dengan gergaji). Atau luka yang masih basah itu terus-terusan dibasahi oleh air yang mengalir. Perih. ya, Perih sekali.
tangisan kami semakin meledak kembali saat nenek berkata, "Padahal nenek sudah nunggu semenjak lama, waktu kakek meninggal, waktu bapak kalian di operasi, nenek nunggu-nunggu saja, tapi kalian tak juga datang." maafkan kami nek, maafkan. jeritku dalam hati.
Semenjak menginjakkan kaki di rumah itu sejak pukul 19.00 WIB tadi, rasanya tak ingin membiarkan kaki ini membawa kembali tubuh dan jiwa ini pulang ke purwakarta, sambutan hangat penuh kerinduan pun terasa begitu sampai ke hati. "gak mau. gak mau pulang" kembali menjerit dalam hati, yang kembali terungkapkan oleh tangisan yang semakin menjadi.

Nenekpun bercerita, menceritakan anggota keluarganya, mulai dari uwak yang tinggal di Aceh, Palembang, Kudus, bahkan ada yang di Mesir, biasanya rumah itu ramai dengan jumlah anggota keluarga lengkap pada saat liburan 'idul fithri. karena rata-rata semua keluarga berlebaran dengan nenek. Aku terus menatapi wajahnya dan dengan seksama ku dengarkan kata demi katanya, karna suaraya yang sudah mulai tak jelas membuatku terus berusaha menafsirkan apa yang diucapkannya. Ya, kembali jatuh tetesan itu. tak kuasa ku tahan, nenek......
Aku tak pernah mengira semua ini akan terjadi, aku akan bertemu nenek, mendengarkan ceritanya dengan seksama, memeluknya dengan penuh cinta, menciumi wajahnya dan tak ingin melepaskan pelukannya. hari ini, setelah 19 tahun lamanya. Nenek..... lagi-lagi ku berteriak dalam hati.
Sesak, rasanya ingin memberhentikan jarum jam seketika sehingga waktu tak sampai pada saat kita harus pergi. Namun ah, rasanya tak mungkin. Empat jam stengah pun berlalu bak empat menit dari pukul 19.00 WIB, tepat pukul 23.30 kami sudah harus bergegas kembali pulang. engga rasanya. Nenek dan saudara-saudara pun terus menerus berusaha mencegah kepulangan kami, namun apa boleh buat nyatanya kami harus tetap pulang. sebelum kami mulai pamitan pulang, nenek berkata "Nenek seneng ketemu kalian, tapi nenek bakalan sedih lagi, karna nenek bakal ditinggal lagi sama kalian." saat itu kami mulai bisa menahan tangisan. walaupun justru terasa semakin sesak. Nenek...
Akhirnya setelah empat jam kami berbincang dan sedikit melepas rindu, dengan berat hati kamipun kembali bersalaman untuk berpamitan. Pelukan nenek yang lebih erat dari yang pertama, rasanya benar-benar tak ingin ku lepaskan, pelukan terakhir malam itu entah pelukan untuk berapa bulan ke depan, atau mungkin berapa tahun ke depan, karna aku tak pernah tahu kapan kita akan bertemu lagi. kuciumi wajahnya, tangannya dan kembali kupeluk dengan erat sekali, kencang dan sekali lagi benar-benar tak ingin ku lepaskan. Sama halnya dengan kak Rio dan kak Seni, tangisan kamipun meledak. kamipun kembali menyalami dan memeluk anggota keluarga satu per satu.


Tak ingin rasanya melangkahkan kaki ke dalam mobil, kembali ku tengok ke belakang saat berjalan, kulihat merekapun tak kuasa untuk menahan butiran-butiran air yang keluar dari bola matanya. meledak, menuangkan ekspresi kerinduan dan sakit yang sama hanya lewat butiran-butiran kecil air yang mengalir itu. jelas saja itu membuatku semakin sesak.
Rabbi.... aku tak kuasa.

***
Sejak malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri akan sering menemui nenek di Yogya, akan sering menengoknya, dan melepas rindu disana. Aku tahu, aku memang tak seberuntung orang lain yang terlahir dari keluarga yag utuh, ayah, ibu, kakek, nenek, dan saudara-saudara yang lengkap, namun aku yakin apa yang sudah terjadi itu atas kuasa-Nya, Ia sudah tunjukkan mutiara-mutiara hikmah yang mengalir di kehidupanku, walaupun aku tidak banyak dididik oleh Ayah, Nenek, Kakek dan keluarganya tapi aku terdidik oleh kehidupan yang keras ini. lebih nyata, dan aku yakin suatu hari nanti Allah akan menjawab semua yang terjadi, pasti masih banyak rencanyanya yang jaaauh lebih indah dari ini. aku yakin itu.

***

Wuuuss.. Mobil yang kami kendaraipun perlahan-lahan meninggalkan kota Yogyakarta, masih belum ada yang bersuara dalam mobil kijan silver itu, semua masih sibuk dengan gumaman perasaannya yang mungkin lebih ringan jika diobrolkan dalam hati saja, semua hati dan fikiran pun berkelana, pergi, terbang, riang entah kemana memikirkan, merasakan dan memaknai hari itu, bukan sebuah kebetulan, ataupun ketidaksengajaan tapi hari itu 10 Mei 2012 Allah merancang skenarionya dengan begitu indah, sempurna, mengizinkan kami untuk menciumi tangan nenek dengan penuh ta'dzim, dan memeluknya dengan gumpalan kerinduan. Hingga akhirnya kamipun terlelap, terlelap dalam kerinduan yang menggantung di pojok rumah bercat hijau itu.





Sabtu, 20 April 2013

dilema LMD Garut, 15-18 April 2013

Hhhm, helaan nafas panjang saat kembali tersadar bahwa Ujian Tengah Semester sudah di depan mata. artinya sudah tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha. okelaaaah :D

Minggu pertama ujian Matkul umum freeeeee *horeee karena gak ngambil MKU di semester ini* akhirnya satu minggu fuuulll libur kuliah, lumayan dong waktu senggang untuk nyiapin UTS *hah?yakin?* haha.
I'tikadnya sih seperti itu, pokonya mau ngga mau haruuus ngeluangin waktu bener-bener buat belajar. *sadardiri* udah 4 semester belum bisa apa-apa *huaaaahsediiih:(

Tapi pada akhirnya kembali, semua niat tersingkirkan karna dapet tawaran nge-tim ria *eits bukan nasi tim ya* sama anak-anak PII (read:Pelajar Islam Indonesia) di Garut tanggal 15-18 April ini. oke pada awalnya tawaran di tolak, dengan pertimbangan rasanya terlalu lama 4 hari di kota orang dengan membawa beban UTS di dalam fikiran, ditambah lagi karna sudah membungkus diri dengan komitmen belajarnya seminggu fuull.. tapiiii *hhm,setelah ditolakpun masih kefikiran* dan ada niatan menyetujui. konyol.

Oke galaunya setengah mati deeeeh, kepengen banget ikut nge-tim karena dapet kabar kekurangan orang untuk nge-tim. Disisi lain ngerasa punya tanggung jawab organisasi, tapiii *tuingtuing* langsung inget juga tanggung jawab akademik yang sama sekali gak bisa di abaikan dan gak kalah berat juga tanggung jawabnya. sampai h-1 pun saya masih diambang ke-dilema-an pilih mana? h-beberapa jam? masih sama diambang ke-dilema-an. sampai pada akhirnya mentari pun datang menggantikan bulan (read:pagi) dapet sms lagi untuk menegaskan ikut ke Garut, dan akhirnyaaaa oke fiks saya bales sms mengkonfirmasi kehadirannya. akhirnya packing dan nyempetin waktu buat ke kampus sebelum caw ke Garut. :)

Di kampus ketemu buguru, sama suni buat belajar bareng. Masih dengan hati yang gak karuan di ambang kedilemaan, walaupun sudah mengkonfirmasi kehadiran *keukeuh masih dilema* dapet wejangan nasehat  deeeh dari buguru :) katanya gini : "apapun keputusannya, ikhlaskan keputusan itu. dua-duanya beresiko. jangan ada penyesalan saat udah ngambil keputusan. kuatkan!" :)
okedeh buguruuu aku ambil masukannya, sampai pada akhirnyaa BERANGKAT to Garut :) yeyeyeyelalalalaaaa gak peduli dulu nantinya bakalan kaya gimana *sst, di save dulu UTS-nya. hehe fokus training :D

Oke di Garut, beneran lupa sama UTS tapi setidaknya inget pesen buguru supaya tetep inget sama materi kuliah, okelah curi-curi waktu buat baca :)

Hhhm, ntah kenapa rasanya sudah beberapa kali, bahkan sering dilema antara kuliah sama PII, sering banget bentrok. semester kemarin h-1 menjelang UAS masih ada di lokasi training *OMG* yang sebelumnya gak jauh beda kedilemaan yang di alaminya. pada akhirnyaaa.. sedilema apapun, pasti pilihan jatuh pada training PII :D
Naaah, walaupun awalnya selalu berada di puncak kedilemaan yang berat banget ngambil keputusan karna berat ninggalin keduanya, selesai acara PII sedikitpun gak ada rasa sesal sudah mengorbankan kuliah *hehe eror emang* tapi seriusan, entah kenapa pasti ngerasa beruntung lebih memilih PII karena selalu mendapat pelajaran yang ruar biasa sekali, dari hal yang kecil sampai hal yang besar.

LMD.. ya, menggoreskan pelajaran berharga yang tak bisa di bayar oleh harta. semua tercipta karena kuasaNya, yang menakdirkanku belajar lewat cerita nyata. di LMD Garut. :)
Median, a roby, t femi, rizki, seni (orang-orang luar biasa yang menemani saya nge-tim di Garut)
Fajar, Sanda, Ega, Fahmi, Sena, Kamal... terimakasih, terimakasih, terimakasih, telah singgah dan memberi jejak dalam cerita nyata karyaNya yang Ia titipkan dalam cuplikan kehidupanku beberapa hari yang lalu ^^

Garut, 15-18 April 2013 (Latihan Managemen Dasar Pelajar Islam Indonesia)






Jumat, 12 April 2013

My Class :) *part 1

Setiap orang pasti punya penggalan skenario kisahnya masing-masing, senang, sedih, gundah, galau, bahagia, semua orang pasti mengalami keadaan tersebut. termasuk saya yang bakalan sedikit berbagi tentang penggalan episode kehidupan saya di masa putih abu-abu :)

masih inget banget waktu awal-awal kelunturan rok yang warna biru menjadi abu-abu (read: SMA) kebingungan menentukan sekolah yang mana, jauh atau deket? hingga akhirnya, keputusan Allah jatuh pada sekolah yang gak begitu jauh dari rumah, nama sekolahnya MA Syamsul 'Ulum di jl.Bhayangkara no.33 lumayan lah menempuh 15 menit perjalanan angkot kuning dari rumah. hhm takdirnya emang harus kesitu, yaudah jalani aja :)

Pertama masuk, dikenalin sama temen ibu (Pak Eddy) dari awal ketemu udah langsung ngobrol panjang kali lebar, bingung ini arah pembicaraannya kemana kok gak nyampe rumah padalah udah belok kesana kesini, hehe.. daaan sampai pada akhirnya setelah menempuh pembicaraan dan pemikiran yang cukup keras, diputuskanlah 1 keputusan yang isinya adalah... jeng jeeengggg, yap saya menetap di Asrama Beranda Ishlah Ponpes Syamsul 'ulum, jadi ceritanya mau nyantri gitu. hihihi dan akhirnya singkat cerita berpisahlah dengan ominkku (read: Ibu) tercinta :) kok senyum? kan seharusnya gini :( kan berpisah, hehe ngga deng tetep senyum :)

hari pertama masuk sekolah dan kali itu langsung di MOS kalo bahasa zaman dulunya, kalo bahasa anak kuliahan di OSPEK, pas masuk lapangan upacara cuman ada satu sosok wajah yang saya kenal. Beliau adalah Pak Apen, langsung kaget pas tau beliau adalah guru olahraga di ulum, wong saya taunya beliau guru ngaji saya, guru TPA saya, yaa ustadz banget lah.. *sooo, what kalo ustadz jadi guru olahraga?* hehehe yaa cukup kaget lah ya :D
beliau adalah orang pertama yang nyapa saya dan memberikan seurtas senyuman di lapangan, hehe :D
kemudian, masuk deeeh saya ke kelas Program Keagamaan. eh iya, kalo di syamsul ulum selain jurusan IPA dan IPS ada kelas Keagamaan juga lhoo. saya salah satu cetakannya. hehe *mudah2an gak jadi produk gagal*eh :)
di kelas keagamaan tuh saya ketemu temen-temen yang alim-aliiim banget *bayangin aja lha wong mereka  ngisi waktu kosongnya aja dengan baca quran, subhaanallah bgt lah. udah gitu alumni MTs Ulum nya juga dulunya anak kelas tahfidz semua, pada pendiem pula. beneran deh coooolnyaaa kaga nahan. haha
saya jadi malu sendiri kalo inget mereka, mereka tuh luar biasa. hafalan qurannya udah jangan di tanya, bahasa arabnya juaraaa, dan sejujurnya nih ya awalnya saya gak betah banget di kelas PK. soalnya anak-anaknya pendieeem semua aseli, saya kan aga-aga pecicilan waktu itu *sekarang udah tobat* hehe
tapi justru awalnya gak betah, kesini-sini justru jadi kebetahan gak mau pisah *lebay mode on*,
akhirnya makin deket lah kita, mereka pada cerdas, rajin, luar biasa lah.. eits tapi di balik itu semua kita juga pernah bandel, kabur waktu jam pelajaran dooong. OMG itu gak perlu seharusnya.
Dan tau kaburnya ngapain?? itu mau masak-masak doang, ya ampuun.. akhirnya kita masak-masak di rumahnya sofia ranti, nah dari situlah kita mulai udah bisa membangun chemistry nya. :)

ada lagi tentang anak2 putranya, waktu mau pemilihan ketua kelas kalo gak salah ada 3 calon, Luthfi, Ova, Faiz, inget banget waktu mereka kampanye di depan kelas pake pada ngeluarin hadits segala *tauuu ane kaga tau apa2* hehe dan akhirnya terpilihlah Upi jadi ketua kelas kita tercinta, :)
kalo di inget-inget Upi itu orangnya pinter banget, ngustadz banget lah kemana-mana pake peci warna item *kecuali pas olahraga aja gak pake peci* iya kalii mu ke mesjid. :D
upi ini ganteng banget, putih, tinggi, hidungnya mengalahkan tajamnya jarum *lebay* multi talent, daan dia adalah murid yang paling sering nanya kalo abis pelajaran di kelas *ngga tau apa? kita semua udah pengen pulang, masiih aja nanya* hehehe becanda piii :D

naaah selain upi yang ganteng kalem, ada lagi Musthofa Mukhta (Ova) yang gak kalah ganteng n pinternya sama c upi, cuman bedanya kalo di kelas dia pendiem banget. kuuuuuuuullll. jauh banget lah sama anak2 puterinya, tapi katanya kalo udah sama temen-temen puteranya pecicilan banget *katanya* haha.
dia juga pinter banget bahasa arabnya, kalo udah berargumen pasti argumennya logis banget, ngena, keren. cuman dia tuh orangnya tawadhu bgt. gak banyak orang yang tau euy :(
daaan yang gak kalah pentingnya dia adalah maskot ulum lhoo, yaa berkat suara emasnya itu siapa sih yang gak kenal c ova sang solis Marawis :D dia juga personil Nasyid ulum jugaa :D
naah sekarang denger-denger, dia udah jadi almukarrom dari banten. waah keereen, hehe sukses yaa ovaa :)

do you know? kita juga punya upin-ipin lhoo di kelas,  c kembar yang selalu nempel kalo kemana-mana ini namanya Faiz dan Faizal. kata orang-orang kembarnya gak ada bedanya, tapi sebenarnya buat saya yang sekelas justru bilang mereka tuh bedaaa banget, mulai dari wajah, sifat, kebiasaan,dll. kalo faiz cenderung lebih easy going *faizal gak easy going gitu maksudnyaa?>,<* ngga bukan gituu, yaa pokonya gitu deh susah diungkapkan oleh kata-kata. hehe, dia lebih ceroboh, enak di ajak ngobrol, lebih pecicilan. oke fine! haha
kalo faizal, cenderung lebih pendiem, gak banyak ngomong tapi tatapannya itu lhoooo *masih inget, tajeeem banget* haha beda. beda banget sama Faiz, kalo persamaannyaaa hhhmmm.. boleh laah sama-sama ganteng *eh
pernah waktu itu ngobrol sama faiz, katanya kalo faizal lagi kenapa-kenapa pasti dia ngerasa gak tenang, terus pas ngobrol sama faizal juga jawabannya sama *yaa namanya juga kembar yah*. hehe
terus nih ya, kalo mu pada tau faiz, faizal, sama ova tuh lumayan sering bolos sekolah *eh maaf jadi kebongkar deh. hehe dan uniknyaaa kalo mereka bolos tuh menurut kabar yang di terima katanya sih pada nongkrong di bu imas *kokinya asrama putra* gosip-gosipnya sih begitu. hayo lhooo, ketawan. hehe
oya yang saya yakini dari mereka, meskipun mereka agak sedikit suka ngelanggar aturan, aseli saya yakin mereka punya potensi yang gak pernah kita kira. asli. ioni keyakinan saya dari dulu..
sukses yaa faiz faizal :)
-to be continue >< bersambung...... :)

oke, ini postingannya 2 Desember 2012 :)

Tahukah Engkau

Dari pertama kita berjumpa
Sudah sangatku sadari
Kau adalah bunga yang menanti mentari pagi hari
Sementara aku adalah akar yang terpendam dalam kegelapan
Yaa,,
Kau mencari kebenaran disetiap sudut kaca
Dan masih mencoba tuntaskan gelisah jiwa
Kau bilang demi senyuman, demi harapan
Dan demi syurga yang telah engkau siapkan
Namun apa yang ku dapat
Ranting rapuh yang tak kuat diikat
Kain lusuh yang tergelar berduri
Yang menambah deritaku tak bertepi
Kau tahu hati tak mampuh terungkap
Namun ingatlah senyumku takkan pernah tidur lelap

tentang mereka

hhhm, rasanya udah lama banget gak nge-blog..
jadi bingung mau nulis apa, tapi sebenernya banyak banget cerita yang terlewatkan untuk didokumentasikan di blog ini (*lebay) tapi beneran, salah satunya tentang mereka.. :)

mereka itu.. banyak! sebut saja mereka inspiring persons. ya mereka juga yang membuat saya saat ini kembali menggerakkan jari-jari saya untuk menari di atas keyboard dan posting di blog ini.
ah.. mereka tuh luar biasa, kayanya berbakat banget mempengaruhi orang lain, bisa membuat orang lain melakukan kebaikan karna mereka, termotivasi untuk selalu berbuat baik.
meskipun dia orang sibuk banget, tapi kalo ketemu di jalan gak pernah lupa sama senyum dan sapaannya.
ada lagi yang kalo udah menyampaikan sesuatu, langsung nusuk banget ke hati (*jleb gitu) ada lagi yang nusuknya langsung nempel ke otak (*inget terus). keren banget lah mereka.
terus ada lagi yang cerdas dalam menyelesaikan masalah, selalu pake pemetaan A B C sampe Z kali yah, ada lagi yang diem banget orangnya tapi dibalik itu semua dia rajin banget, selalu bikin resume materi kuliah.
ada lagi yang kalo paaaas dia lagi ngomong, tiba-tiba yang lagi ngobrol pun seolah disihir *triiiing* berenti ngobrolnya semua mata langsung tertuju sama dia, gaya bicaranya enak, isinya juga gak kalah berbobotnya.
ada lagi yang konyol kalo menyampaikan sesuatu, tapi kekonyolannya tuh berisi bikin orang ngakak sambil mikir *tuingtuing. keren banget itu.
Jadi suka penasaran pola hidup mereka itu seperti apa...
huaaaah kagum sama mereka ^^

tergila-gila bukan pada satu objek
menggilai semuanya
ingin seperti semuanya
memerhatikan ribuan objek
dan acap kali sepersekian detik berbelok
berbelok lagi
entah kapan mentoknya
ah! dasar di pengagum!